Pengumuman SP3

PENGUMUMAN

       Nomor:  050/7691

 

 

REKRUTMEN SARJANA PENDAMPING PENGGERAK PEMBANGUNAN (SP3)

PEMERINTAH KABUPATEN ASAHAN

TAHUN 2008

 

 

Pemerintah Kabupaten Asahan membuka kesempatan kepada para Sarjana Perguruan Tinggi Kabupaten Asahan baik pria maupun wanita untuk menjadi Sarjana Pendamping Penggerak Pembangunan (SP3) Pemerintah Kabupaten Asahan, dengan ketentuan:

 

1.      Persyaratan

a.       Sarjana S1 semua jurusan lulusan perguruan tinggi berstatus terdaftar dan berkedudukan di Kabupaten Asahan

b.      Penduduk Kabupaten Asahan

c.       Berusia maksimal 35 tahun dan belum menikah

d.      Tidak sedang terikat perjanjian/kontrak kerja dengan pihak lain

e.       Tidak berkedudukan sebagai CPNS/PNS/Calon Anggota TNI/Polri serta anggota TNI/Polri

f.        Tidak pernah dihukum penjara/kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum yang tetap karena melakukan suatu tindak pidana kejahatan

g.       Membuat lamaran kerja yang di tujukan ke Bupati Asahan dengan melampirkan:

1)      Fotocopy Ijazah Sarjana dan Transkrip Nilai yang dilegalisir

2)      Fotocopy Kartu Tanda Penduduk yang masih berlaku

3)      Daftar Riwayat Hidup

4)      Pas photo berwarna 4 x 6 sebanyak 4 lembar

 

2.      Pendaftaran

a.       Berkas lamaran disampaikan langsung ke Sekretariat Panitia di Kantor Bappeda Kabupaten Asahan Jl. Jenderal Sudirman No. 5 Kisaran mulai tanggal 24 Nopember s.d. 23 Desember 2008 dan sudah diterima oleh panitia selambat-lambatnya pada hari Selasa tanggal 23 Desember 2008 pukul 15.00 WIB. Panitia tidak menerima berkas lamaran yang disampaikan di luar batas waktu yang telah ditentukan.

b.      Surat lamaran dibuat dengan tulisan tangan menggunakan tinta hitam, sesuai dengan format yang terlampir pada pengumuman ini.

c.       Berkas lamaran dibuat dalam rangkap 2 (asli dan fotocopy) dan dimasukkan ke dalam 1 map berwarna hijau.

 

3.      Tahapan Seleksi

Seleksi dilakukan sebagai berikut:

a.       Seleksi administrasi sesuai persyaratan

b.      Ujian tertulis meliputi tes pengetahuan umum, potensi akademik dan keterampilan teknis

c.       Wawancara

 

4.      Tempat dan Pengumuman Hasil Seleksi

a.       Bagi pelamar yang dinyatakan lulus administrasi akan dipanggil untuk mengikuti ujian tertulis.

b.      Pengumuman hasil seleksi administrasi dapat dilihat di papan pengumuman Kantor Bappeda Kabupaten Asahan tanggal 5 Januari 2009.

c.       Tanda Peserta Seleksi Ujian Tertulis diambil sendiri oleh peserta (tidak dapat diwakilkan) pada tanggal 6 s.d. 9 Januari 2009 pada jam kerja di Kantor Bappeda Kabupaten Asahan.

d.      Ujian tertulis dan wawancara akan dilaksanakan pada tanggal 12 s.d 13 Januari 2009. Lokasi dan waktu ujian akan diumumkan pada saat pengambilan Tanda Peserta Seleksi Ujian Tertulis.

e.       Hasil ujian akan diumumkan pada tanggal 26 Januari 2009 di papan pengumuman Kantor Bappeda Kabupaten Asahan dan melalui website http://asahan.wordpress.com.

f.        Keputusan hasil seleksi tidak dapat diganggu gugat.

 

5.      Lain-Lain

a.       Rekrutmen Sarjana Pendamping Penggerak Pembangunan (SP3) Kabupaten Asahan tidak dipungut biaya.

b.      Pemerintah Kabupaten Asahan tidak bertanggung jawab atas pungutan atau tawaran berupapapun oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan Pemerintah Kabupaten Asahan atau panitia.

c.       Lamaran yang dikirim kepada panitia sebelum pengumuman ini dianggap tidak berlaku.

d.      Berkas lamaran yang telah diterima panitia menjadi hak milik panitia dan tidak dapat diminta kembali oleh pelamar.

e.       Hal-hal lain berkenaan dengan rekrutmen Sarjana Pendamping Penggerak Pembangunan (SP3) Kabupaten Asahan dapat ditanyakan langsung ke Kantor Bappeda Kabupaten Asahan atau melalui telepon (0623) 41247 pada jam kerja.

 

 

 

Kisaran, 18 Nopember 2008

BUPATI ASAHAN

 

 

 

Drs. H. RISUDDIN

Responses

  1. Islam Agama Yang Diridhai Allah SWT Rabb Semesta Alam Penciptra Langit Dan Bumi

    Islam adalah agama orang-orang yang berserah diri kepada Allah SWT Rabb Alam Semesta Pencipta Langit Dan Bumi dan tidak menyembah Tuhan selain Allah SWT. “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” [QS Ali Imran : 64]

    Sesungguhnya Islam sudah ada sejak zaman Nabi Adam dan Nabi Ibrahim : “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.” [QS Al Hajj : 78]

    Sesungguhnya Ibrahim dan tiap-tiap Nabi lainnya beragama Islam. Bukan orang yang musyrik : “Dan mereka berkata : “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah : “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” [QS Al Baqarah : 135]

    “Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.“ [QS Al Baqarah : 140]

    “Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” [QS Al An’aam : 161]

    “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [QS An Nahl : 123]

    Bahkan Ibrahim mewasiatkan keturunannya agar tidak mati kecuali dalam agama Islam : “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” [QS Al Baqarah : 132]

    Agama yang diridhai Allah hanya Islam.

    “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” [QS Ali Imran : 19]

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [QS An Nuur : 55]

    “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” [QS Ali Maa-idah : 3]

    Tidak Diterima Agama Selain Islam.

    “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS Ali Imran : 85]

    Hanya Islam agama yang bersih dari kemusyrikan. Islam hanya menyembah satu Tuhan yaitu Allah. Hanya mengabdi pada Allah. Segala kebaikan kepada makhluk lain tak lepas karena cinta kepada Allah : ”Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” [QS Az Zumar : 3]

    Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [QS Ali Imran : 10]

    Bila dalil-dalil yang begitu jelas dan gamblang, masih belum juga membuka hati untuk mengatakan bahwa hanya agama Islam-lah agama yang benar, maka sebagai penutup untuk orang-orang yang menga-takan semua agama adalah sama dan benar, mari saya kutipkan ayat untuk menjadi perenungan bersama : “Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): Apakah yang dikatakannya tadi? Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.” [QS Muhammad : 16]

    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci” [QS Muhammad : 24].***

  2. JIN

    Manusia dari dulu hingga kini masih penasaran dengan identitas jin, dan ingin tahu siapa sih mahluk yang kebanyakan sering menggoda hati dan mencelakakan manusia itu? Sesuai dengan namanya, memang jin adalah suatu makhluk yang masih samar bagi manusia. Istilah jin (mestinya dengan dobel ‘n’) berasal dari kata janna-yajunnu-jannan, artinya, menutupi, menyembunyikan, menjadi gelap, merahasiakan atau melindungi.

    Akar kata janana kemudian menjadi janin, berarti “anak yang masih dalam kandungan”. Seorang yang gila atau tertutup akalnya dinamakan majnuun. Begitu juga istilah jannaat bentuk jamak dari jannat, berarti “kebun” dalam arti “kebun tanaman yang dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan sehingga menutup pandangan manusia dari luar”, bisa juga dinamakan jannah, “surga” karena hakekatnya tertutup oleh pengetahuan manusia, atau paling tidak karena di sana “terdapat hal-hal yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, serta terjangkau oleh pikiran”. Jadi jin itu masih menjadi rahasia bagi manusia karena kita tidak dapat melihat jin dalam bentuknya aslinya sebagaimana firman Allah : “Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” [QS Al-A’raf (7): 27].

    Kalau keberadaannya saja begitu samar, bagaimana kita tahu biografi jin? Tidak terlalu sulit, sebab kita mengetahui tentang jin dari Sang Pencipta Jin (Allah) dan para utusan-Nya yang telah menerima Kitabullah, maka kita menuliskan biografi jin juga berdasarkan Al-Qur’an, serta beberapa keterangan dari Rasulullah saw yang telah mendapat pengetahuan tentang hal itu dari Allah swt.

    Definisi. Jin

    Setelah kita mengetahui asal kata jin, maka kompas pemikiran kita sudah mulai bekerja dengan baik menuju kepada obyek yang kita amati. Karena itulah, ada beberapa ulama yang mendefinisikan apa hakekat jin itu.

    Menurut Dr Umar Sulaiman Al-Asqar, jin adalah makhluk halus yang diciptakan oleh Allah. Ia memiliki potensi dan keajaiban yang tidak dipunyai oleh makhluk lain. Ia bisa bergerak cepat, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya yang jauh dalam sekejap. Ia dapat membawa manusia terbang di udara, menyusup ke dalam tubuh manusia, binatang, pohon-pohon dan lainnya.

    Apa dasarnya? Yaitu firman Allah : “Ifrit dari golongan jin berkata (kepada Sulaiman): “Saya akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu (singgasana Ratu Yaman) kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesugguhnya aku benar-benar kuat membawanya dan dapat dipercaya.” Seorang jin yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab berkata: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terlihat di hadapannya, ia pun berkata: “Ini adalah dari karunia Tuhan-ku ….. [An-Naml (27): 39-40].

    Begitu perkasanya jin? Tidak juga. Jin tidak mengetahui hal yang gaib, sebagaimana manusia, jin tidak akan mengetahui apakah hari akan hujan atau tidak, nasib manusia esok hari seperti rezeki, jodoh, dan lainnya; jenis kelamin janin, hari kiamat, serta saat kematian. “Maka tatkala Kami telah memutuskan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka tentang kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, barulah jin itu tahu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib, tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” [ Saba ’ (34): 14].

    Dipercaya juga, jin tidak bisa menyentuh tubuh manusia. Bagaimana bisa menyentuh? Jin itu berada di alam sendiri, yang berbeda dengan alam manusia dan alam malaikat. Namun konon ada yang berpendapat, alam jin itu sama dengan alam malaikat. Kalau jin bisa menyentuh manusia, maka dia bisa mencelakakan manusia secara langsung, seperti membunuh manusia, menculik manusia, dan berbagai kerusakan atau bencan lainnya. Sebaliknya manusia juga tidak bisa menyentuh jin, kecuali para rasul yang telah diberikan kekuatan Allah untuk dapat menangkap jin, seperti Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad.

    Lalu dengan cara apa jin kafir bisa mencelakakan manusia? Dengan cara menghasut lewat bisikan di dalam hati manusia. “Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja Manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, dari kejahatan (bisikan) ke dalam hati manusia, dari (golongan ) jin dan manusia.” (An-Naas (114): 1-6].

    Jin dan Setan

    Mengapa jin sering juga disebut setan? Dua istilah ini bisa ditelusuri dari kisah penciptaan Adam, ketika itu, malaikat dan iblis diminta sujud (menghormat) kepada Adam sebagai mahluk yang lebih berilmu dari pada mereka berdua. Malaikat tunduk kepada perintah Allah untuk sujud kepada Adam sedang iblis menolak perintah Allah dengan alasan : “Saya (iblis) lebih baik daripadanya (Adam): Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raf (7): 12].

    Karena kafir kepada Allah itulah, iblis diusir dari surga. Ketika iblis menggoda Adam dan Hawa untuk mau memakan buah larangan itu, Al-Qur’an menyebut iblis dengan istilah setan : “Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” [Al-Baqarah (2): 36].

    Iblis adalah bentuk kata benda bahasa Arab diambil dari kata “ilbalasa” yang berarti “orang yang tidak punya kebaikan”; dan “ublisa” berarti “putus asa dan bingung”. Iblis adalah salah satu jin yang waktu itu sudah ada bersama malaikat. Golongan jin lainnya, misalnya ifrit. Ada kemungkinan, iblis adalah salah satu pemimpin terbesar bangsa jin, karena itu mewakili “Perhelatan” yang diadakan Allah, bersama malaikat dan Adam. Setan (syaithan) sebutan bagi setiap mahluk yang durhaka dan tidak mau taat kepada Allah. Jadi setan bukan jenis makhluk, tetapi hanya jenis sifat. Kata “setan” dalam bahasa Arab dijadikan istilah bagi segala sifat yang angkuh dan durhaka.

    Merujuk kepada surat Al-Baqarah (2): 36 dan An-Naas (114): 6, maka mereka yang disebut setan bisa berasal dari golongan jin dan dari golongan manusia. Jadi setan adalah jin kafir dan manusia kafir. Namun memang Al-Qur’an lebih sering menyebut setan ini dalam arti jin kafir. Sedang setan manusia juga disebut thagut (orang yang kelewat batas), sebab dia adalah kawan-kawan setan (jin kafir)

    Dari sini dapat diketahui bahwa induk segala makhluk halus yang mengganggu manusia, entah itu bernama setan (satan), hantu (ghost), dan kuntilanak (sundel bolong) Atau sebagai digolongkan orang Jawa, yaitu memedi (hantu yang menakut-nakuti), lelembut (mahluk halus), tuyul (hantu bocah), dedemit atau demit (hantu penghuni suatu tempat), dan danyang (roh pelindung). Semua adalah jin kafir! Mereka menjadi pengikut iblis dan ifrit.

    Jin Diciptakan Dari Api.

    Dalam Al-Qur’an disebutkan : “Dan, Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” [Al-Hijr (15): 27]. “Dan, Dia telah telah menciptakan jin dari nyala api. “ [Ar-Rahman (55): 27]. Sedang di dalam hadits shahih disebutkan, dari A’isyah dari Nabi saw. Beliau bersabda : “Malaikat telah diciptakan dari cahaya. Jin telah diciptakan dari api. Dan Adam telah diciptakan dari apa yang disifatkan pada kalian.” (HR Muslim).

    Karena perbedaan asal penciptaan inilah, iblis melakukan kias diskreminasi bahwa dia yang berasal dari api mengaku lebih baik dibanding dengan Adam yang berasal dari “tanah liat kering (berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. Karena itulah, dalam kazanah hukum Islam ada ulama yang menolak kias, karena kias berasal dari iblis.

    Sebetulnya kias (qiyas) yang dipergunakan iblis adalah kias diskreminasi, bukan kias dalam makna analogi (persamaannya). Iblis menggunakan variabel diskret ini didasarkan kepada rasa enggan, sombong, dan tinggi hati. Oleh sebab itu, Allah mengutuk iblis karena telah berbuat kafir kepada-Nya.

    Sebagaimana penciptaan manusia, jin yang berasal dari api tidak kemudian menjadi mahluk api, maksudnya, tidak seluruhnya dalam bentuk api menyala. Begitu juga manusia diciptakan dari tanah, tetapi secara fisik tidak dalam bentuk tanah, melainkan dalam bentuk daging, darah dan tulang-tulang. Hal ini untuk menjawab alasan orang yang culas, bahwa meski jin kafir nanti dimasukkan ke dalam api neraka, tetapi hukuman itu tidak akan membuat mereka sakit, sebab keduanya diciptakan dari bahan yang sama, yaitu api. Keterangan ini jelas batil, sebagaimana manusia yang diciptakan dari tanah, kalau tubuh manusia ini terkena lemparan bongkahan tanah maka akan sakit juga, meski keduanya berasal dari bahan yang sama.

    Perbedaan lainnya adalah jin diciptakan lebih dulu dari manusia. Lalu lebih dulu mana jin dengan malaikat? Ada tiga kemungkinan, karena tidak ada keterangan yang shahih, yaitu malaikat lebih dulu dari jin, malaikat dan jin diciptakan bersamaan, terakhir jin lebih dahulu diciptakan dari malaikat. Jadi hak Allah untuk untuk menciptakan mereka lebih dahulu atau lebih akhir.Hanya, sebagai manusia yang memiliki alat yang disebut akal, maka kita lebih cenderung berpendapat – bisa benar dan bisa salah – bahwa malaikat lebih dulu diciptakan dari jin. Alasannya, malaikat diciptakan Allah untuk mengabdi dan sekaligus menjadi pembantu Allah, sedang jin hanya diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Karena dengan dua tugas utama itulah malaikat lebih dahulu diciptakan dari jin.

    Tugas Jin

    Allah menciptakan mahluk semua ada tujuannya. Begitu juga dengan penciptaan jin. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [Adz-Dzariyat (51): 56]. Jadi pada awal mulanya jin itu adalah mahluk yang taat beribadah kepada Allah. Contohnya iblis adalah jenis mahluk yang sangat meyakini ketauhidan Allah. Mengapa kemudian mereka kafir kepada Allah? Ini tidak lepas dari penciptaan Adam sebagai manusia pertama. Ketika Adam diciptakan dan diajarkan nama-nama benda, maka dia lebih unggul dari malaikat dan iblis. Allah menyuruh kedunya sujud tanda hormat kepada Adam, malaikat tunduk, tetapi iblis menolak, karena itulah dia kafir kepada Allah. Iblis yang kafir kemudian mendapat sebutan setan.

    Sejak kejadian itu, mulai terpecah-belahlah golongan jin menjadi dua. Yang pertama golongan jin kafir juga disebut setan, kedua jin yang tetap tunduk kepada Allah, sebut saja jin Muslim. Jin kafir menggoda dan mencelakakan manusia hingga akhir dunia, sementara jin Muslim tetap kepada fitrahnya beribadah kepada Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan : “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” [Al-Jin (72): 11].

    “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) (orang-orang) yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mreka menjadi kayu api bagi neraka Jahanam.” [Al-Jin (72): 14-15].

    Jin terus menggoda anak cucu Adam di dunia, hingga saat munculnya Nabi Sulaiman yang diberikan kemampuan Allah untuk bisa menundukkan bangsa jin. Jin dan setan itu diperbudak oleh Nabi Sulaiman untuk membangun gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang besar seperti kolam, dan periuk yang tetap berada di atas tungku. Kemampuan Nabi Sulaiman menundukkan jin ini karena doanya terkabul. “(Ya Tuhanku), anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun jua sesudahku.” [Shad (38): 35].

    Doa inilah yang mencegah Nabi Muhammad saw untuk mengikat seorang jin atau iblis yang telah mengganggu salatnya. “Demi Allah, kalau tidak karena doa saudara kita Sulaiman, niscaya dia akan diikat sehingga bisa dipermainkan oleh anak-anak penduduk Madinah.” (HR Muslim).

    Dari hadis ini dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menundukkan jin, sebab kemampuan untuk menundukkan jin hanya bisa dimiliki Nabi Sulaiman dan para nabi yang telah mendapatkannya dari Allah, sehingga Nabi Muhammad saw sendiri mengurungkan niatnya meski memiliki kemampuan untuk itu.

    Bagaimana kalau jin itu sendiri yang suka rela membantu manusia? Rasulullah sebagai manusia yang agung, yang dulu banyak mendapatkan kesulitan, tidak pernah mendapatkan tawaran bantuan dari jin (Muslim). Begitu juga tidak ada cerita para sahabat bekerja sama dengan jin. Yang ada justru cerita tentang para jin yang menggoda para sahabat, seperti kasus Abu Hurairah yang didatangi jin kafir yang menyamar sebagai peminta-minta. Tiga hari berturut-turut jin itu meminta sesuatu dari baitul maal, ketika dilaporkan kepada Nabi, maka diberitahu bahwa itu adalah setan yang menyamar, maka ditangkapnya. Setan itu minta dilepaskan dengan imbalan mengajarkan kepada Abu Hurairah supaya tidak tergoda setan, yaitu dengan membaca ayat Kursi.

    Kebanyakan kerjasama dengan bantuan jin kafir itu justru menimbulkan malapetaka, sebagaiman disitir Al-Qur’an : “Dan sesungguhnya ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa orang di antara jin, maka jin-jin itu menambah dosa dan kesalahan bagi mereka.” (Al-Jin (72): 6].

    Sebelum Nabi saw diangkat menjadi rasul, setan selalu mengintip pembicaraan di langit ke tujuh. Setelah itu, informasi yang tidak lengkap itu ditambah-tambahi dengan dusta dan disebarkan kepada para dukun pengikut setan untuk meramal atau untuk kepentingan hawa nafsunya sendiri. Itulah sebabnya, manusia bertambah dosa dan kesalahannya karena mereka meminta bantuan para setan itu. Setelah Nabi saw diangkat jadi rasul, Allah menembak para setan itu dengan meteor, sehingga tertutup pintu langit bagi mereka.

    Kembali pada pokok persoalan, bagaimana cara jin itu beribadah kepada Allah? Golongan jin beribadah menurut syariat pada masa Nabi berada. Untuk sekarang para jin beribadah mengikuti cara Nabi Muhammad saw : “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an) lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebersaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.” [Al-Jin (72): 1-3].

    Karakteristik Jin.

    Seperti manusia, apakah jin juga berketurunan? Sebagian besar ulama berpendapat bahwa jin juga berketurunan seperti manusia. Alasannya : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya (dzurriyyatahu) sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. [Al-Kahfi (18): 50].

    Berarti jin itu berketurunan. Dalam logika kita, jin itu melakukan perkawinan dan beranak-pinak seperti manusia. Cuma dalam hal ini kita tidak tahu bagaimana hakekat perkawinan dan reproduksi mereka. “Mereka (para bidadari) belum disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni surga) dan tidak pula oleh jin. [Ar-Rahman (55): 56].

    Di sini diketahui bahwa jin Muslim akan masuk surga, dan mereka juga akan melakukan hubungan suam-istri dengan para bidadari sebagaimana manusia melakukan perkawinan. Jadi jin juga melakukan perkawinan dan beranak-pinak ketika di dunia. Ada persoalan, betulkah manusia bisa kawin dengan jin? Mustahil. Jin dan manusia adalah spesies yang berbeda, seperti, dapatkah kawin (bersatu) antara api dengan tanah? Mungkin yang dimaksud di sini adalah perkawinan ideologi, di mana manusia telah sesat mengikuti godaan setan (jin kafir).

    Menurut keterangan hadis, jin mengalami ajal. Namun dipercayai umur mereka panjang-panjang seperti umur iblis yang hingga akhir dunia. Mereka juga makan dan minum, menurut hadis sahih: “Tulang dan kotoran binatang itu merupakan makanan jin” (HR Bukhari).

    Bagaimana Wajah Jin kafir (setan)?

    Hadis sahih menunjukkan bahwa setan memiliki dua tanduk, sedang Al-Qur’an menunjukkan bahwa wajahnya menyeramkan. “Sesungguhnya ia (zaqqum) adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka yang menyala-nyala. Buahnya seperti kepala-kepala setan.” [Ash-Shafat (37): 65].

    Bentuknya? Besar kemungkinan lebih kecil dari manusia, karena dalam hadits Nabi saw tentang keinginan akan menangkap jin dan akan dipermainkan anak-anak Madinah dan bentuknya mungkin seperti boneka, sehingga anak-anak senang mempermainkannya.

    Dimana Tempat Jin kafir?

    Rumah yang lama tidak didiami manusia akan menjadi sarang jin, dan menurut hadits Muslim, pasar adalah tempat setan bertempur. Jin memiliki waktu-waktu tertentu untuk aktivitas, sebab kita dilarang salat sunah pada waktu fajar dan tenggelamnya matahari (HR Bukhari), karena itulah waktu bencana, saat orang menyembah matahari. Beberapa aktivitas jin kafir adalah menyembah berhala, mengundi nasib, berjudi, dan minum minuman keras, serta perbuatan maksiat dan mungkar lainnya sebagaimana disebutkan Al-Qur’an. Yang jelas, di manapun dan kapanpun, bila ada kesempatan jin kafir alias setan menggoda manusia, maka mereka akan berada di tempat dan waktu yang diperlukan itu. Jadi waspadalah, jin kafir ada di sekitar kita. Wallahu’alam.***


Leave a response

Your response: